Selamat Datang, terima kasih telah berkunjung."Disini kita bukan untuk saling bersaing, kita ada disini untuk saling melengkapi"

22 Maret 2012

Apa dibalik budaya "like facebook"

jokosun.blogspot.com   Dunia internet akhir-akhir ini digiring oleh beberapa tools yang sebelum kemunculan Facebook dan Twitter belum tersedia. Bila anda aktif di Facebook tentu sangat kenal dengan tanda LIKE yang sering disimbolkan dengan jempol. Bila di Twitter seringkali kita menemukan Retweet Button, untuk men-tweet konten tertentu yang kita sukai. Kemudian beberapa waktu terakhir, semenjak Google mulai serius di social media, mereka menyediakan +1, sebuah tool yang menandakan anda menyukai suatu konten tertentu di internet yang nantinya terhubung dengan akun anda di Google. Tools tersebut di atas menunjukkan suatu hal yang hampir sama, jika anda suka konten ini silahkan di-LIKE, di-Retweet, dan di-+1-kan.

Hal yang aneh adalah bahwa tools tersebut di atas mulai dijadikan ukuran kesuksesan konten di internet. Kadang juga menimbulkan semacam utang balas budi, terutama tombol LIKE di Facebook yang penyebarannya sangat masif  karena jumlah pengguna Facebook yang mencapai 750 juta orang. Saya sering terdorong untuk menekan tombol LIKE karena beberapa alasan berikut ini.
Pertama karena konten tertentu berasal dari orang yang sangat dekat dengan saya.
Kedua karena konten itu benar-benar saya sukai.
Ketiga karena yang punya konten sering menekan tombol LIKE untuk konten yang saya sebar di Facebook
Keempat, terkadang saya iseng.
Kelima, terutama +1, saya sering mengklik karena saya lebih suka Google dibandingkan yang lain.
Bila kita telusuri lebih jauh, dua tools, yaitu tombol LIKE dan tombol Retweet sudah menjadi ukuran untuk mengukur pengaruh konten seseorang di internet. Dengan demikian secara langsung juga merupakan wujud pengaruh dari yang memiliki atau menyebar konten tersebut. Klout misalnya sebuah tool yang banyak digunakan untuk mengetahui pengaruh seseorang di dunia internet berpatokan pada banyaknya LIKE dan Retweet yang dilakukan oleh orang terhadap konten yang disebar di Twitter dan Facebook. Pertanyaannya, cukupkah hanya dengan dua tombol tersebut?
Sebuah artikel di online.wsj.com menjelaskan bahwa kini sudah terbentuk suatu budaya LIKE, budaya Retweet dan mungkin budaya +1. Mungkin ini terlalu dini dan memasukkannya ke lingkup “budaya” dan terlalu buru-buru karena berbagai alasan. Namun coba kita lihat sebuah konten di internet, banyak sekali pengguna yang meng-klik LIKE dan Tweet, artinya konten tersebut akan semakin tersebar karena akan muncul di profil para pengguna yang melakukan LIKE dan muncul juga di-tweet karena mereka melakukan tweet. Makin banyak di-LIKE makin banyak di tweet hal ini akan menimbulkan rasa percaya diri dari mereka yang memiliki atau menyebar konten tersebut. Di sinilah kita perlu menanyakan, apakah kepercayaan diri yang diperoleh karena di-LIKE dan di Tweet itu benar adanya.
Neil Strauss di online.wsj.com berpendapat budaya LIKE (pemberian jempol di Facebook) merupakan hal yang bertentangan dengan konsep harga diri. Harga diri semestinyalah dibangun dari dalam diri bukan sebaliknya dari luar diri dengan adanya segala macal tombol LIKE dan Retweet, kemudian banyaknya komentar atas artikel, banyaknya teman yang ada di Facebook dan banyaknya Follower di Twitter.  Ada kasus menurut Neil Strauss seorang penyanyi rock jatuh atau menjadi tidak terkenal hanya karena penyanyi rock lain lebih banyak fans di Facebook dan lebih banyak follower di Twitter. Suatu hal yang cukup mengenaskan.
Ternyata efek budaya LIKE tersebut bukan tanpa korban. Budaya itu sepertinya telah mengubah banyak persepsi orang tentang harga diri dan pengaruh seseorang. Kini jika anda pandai membuat konten yang menarik, kemungkinan akan banyak LIKE yang akan anda terima, akan banyak retweet yang diperoleh dan ini akan membuat pengaruh anda melebihi orang lain. Banyak orang terkenal, brand menjadi maju dan harga diri menjadi tinggi hanya karena hal-hal sepele seperti LIKE dan Retweet tersebut. Kasus penyanyi dadakan yang terkenal melalui YouTube merupakan kasus nyata bahwa ukuran-ukuran seperti hal tersebut di atas tidaklah sesuatu yang bertahan terlalu lama. Shinta & Jojo, Udin Sedunia dan Norman Kamaru hanya memperoleh keterkenalan  yang sesaat untuk kemudian hilang ditelan penyanyi baru yang muncul belakangan.
Hal yang harus lebih diperhatikan adalah mungkin saja alasan seseorang melakukan LIKE bukan karena ia benar-benar menyukai suatu konten tertentu. Dari berbagai alasan yang saya kemukakan di atas bisa saja alasan kedekatan pribadi menjadi hal yang utama sehinga pemberian LIKE dan Retweet menjadi sangat subjektif.
Seorang psikoanalis, Erich Fromm sebagaimana dikutip oleh Neil Strauss mengatakan :
“man has constructed a complicated social machine to administer the technical machine he built…. The more powerful and gigantic the forces are which he unleashes, the more powerless he feels himself as a human being. He is owned by his creations, and has lost ownership of himself.”
salam

sumber: http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/07/06/apa-di-balik-budaya-like-facebook/

Disebarluaskan oleh : Joko Sun - "Berbagi Apa Saja"

Jokosun Kamu telah membaca artikel tentang Apa dibalik budaya "like facebook". Kamu boleh copy paste artikel ini. Jika di bawah artikel ditulis sumbernya, cantumkan sumbernya, jika tidak mohon cantumkan kode di bawah ini:

0 komentar:

Posting Komentar

Pedang yang tajam mengakibatkan luka yang dalam. Namun kata-kata yang tajam bisa melukai hati. Hati yang luka lebih sukar untuk menyembuhkannya.